0
Labuhan | GLOBAL SUMUT-Meskipun di tengah keterbatasan ruang dan gerak, hasil karya Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Rutan Klas II B Labuhan Deli cukup bervariatif dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Bahkan hasil karya mereka seperti sapu lidi, membuat pesanan papan bunga, prakarya mirip kapal pesiar, Masih banyak lagi kualitasnya sangat baik dan bisa dipasarkan di luar rutan. Kamis (15/11).

Lewat tangan dingin para warga binaan tersebut maka terciptalah suatu karya yang layak diberikan acungan jempol. Mereka berhasil menciptakan terobosan membuat kerajinan sapu lidi, Dan langsung mendapat dukungan dari Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Klas II B Labuhan Deli, Nimrot Sihotang, Amd, IP, SH.

Salah satu warga binaan Sakti Putra Nasution mengatakan untuk ide pembuatan kerajinan sapu lidi tersebut timbul atas rasa keprihatinan senasib dan sepenanggungan dalam menjalani masa hukuman di Rutan Labuhan Deli, Tidak disangka dan tidak diduga ternyata idenya itu mendapat dukungan dari WBP.

Setelah sepakat, Sakti Putra Nasution dan WBP pun menyampaikan gagasanya tersebut kepada Kepala Rutan yang saat itu langsung diaminkan oleh beliau.

"Ide membuat sapu lidi itu muncul tiba-tiba aja Bang, dengan dasar senasib dan sepenanggungan. Dan yang lebih menggembirakan lagi ternyata ide itu langsung didukung Pak Nimrot," Kata Sakti Warga Binaan.

Lanjut Sakti, Dari hasil pembuatan sapu lidi tersebut dirinya memberikan upah sebesar Rp1500, Untuk setiap satu batang sapu lidi kepada setiap WBP, Jumlah pekerjanya yang kesemuanya WBP sekitar 20 orang.

"Harganya bervariasi, mulai dari harga Rp.6000-13.000, Cara menjualnya selain menjual kepada keluarga WBP yang berkunjung ke Rutan, sapu lidi itu kami jual ke daerah Titi Papan, Petisah, Tanjung Morawa dan Irian Supermarket lewat bantuan Pak Ka Rutan," Katanya lagi.

Sakti berharapa, Agar kiranya Pemerintah dan instansi terkait tergerak hatinya membantu mereka dalam menjual dan memasarkan produk sapu lidi itu.

Sementara Kepala Rutan Klas II B Labuhan Deli Nimrot Sihotang, Amd, IP, SH mengatakan pada prinsipnya Rutan memiliki konsep memanusiakan manusia. Oleh karna itu ketika Sakti Putra Nasution dan beberapa WBP menyampaikan ide membuat sapu lidi itu dirinya langsung setuju dan bahkan memfasilitasi mereka.

"Pada dasarnya Rutan memiliki konsep memanusiakan manusia, karna itu kita langsung mendukung ide pembuatan sapu lidi itu," Ujar Nimrot.

Lanjut Nimrot, Dalam hal kaitan pembuatan sapu lidi tersebut Kapolsek Medan Labuhan Kompol Rasyid sendiri sangat mengapresiasi hasil kerja para WBP.

"Terbukti belum lama ini Kapolsek meninjau langsung lokasi pembuatan sapu lidi yang berada di lantai tiga Rutan Klas II B Labuhan Deli," Ucapnya.

Sementara saat ditanya tentang apakah dalam hal menjual dan memasarkan produk sapu lidi hasil karya anak bangsa tersebut, Pihak Rutan pernah mengundang ataupun mendapat bantuan dari Pemerintah Kota (Pemko) Medan yang dalan hal ini Dinas Koperasi ataupun Dinas Kebersihan.

"Kita memang belum pernah mengundang Pemko Medan apalagi mendapat bantuan dari Dinas terkait tentang bagaimana cara menjual dan memasarkan hasil karya anak bangsa warga binaan pemasyarakatan Rutan Klas II Labuhan Deli ini," Kata Nimrot.

Hasil pantauan dilapangan, Walaupun sedang menjalani masa hukuman di Rumah Tahanan Klas II B Labuhan Deli, Namun tidak menyurutkan niat para warga binaan pemasyarakatan (WBP) untuk menciptakan suatu karya hingga menghasilkan pundi-pundi rupiah secara halal, Cara pengerjaan kerajinan sapu lidi buah karya warga binaan Rutan Labuhan Deli itu memang terbilang rapi, Awet dan terlihat kuat.

Mulai dari gagang kayunya hingga pengikatnya yang terbuat dari eceng gondok. Hasil kerajinan tangan dari warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas II B Labuhan Deli Kota Medan Sumatera Utara memiliki nilai ekonomis dan nilai jual.[abu]

Post a Comment

Top