0
MEDAN | GLOBAL SUMUT-Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Ir H Tengku Erry Nuradi MSi bertekad meneruskan etos kepemimpinan Almarhum H Tengku Rizal Nurdin dan H Raja Inal Siregar. Dua mantan gubernur Sumut terdahulu tersebut dinilai layak menjadi teladan dalam menjalankan kepemimpinan di Sumut.

Tekad tersebut dikemukakan Tengku Erry Nuradi usai melaksanakan ziarah di makam Almarhum Tengku Rizal Nurdin di Komplek Pekuburan Mesjid Raya Al Mahsun, Jl Sisingamangaraja Medan, Senin (5/9/2016) sore. Kegiatan ini dalam rangka mengenang 11 tahun tragedi jatuhnya Mandala sesaat setelah lepas landas di ujung landasan pacu Bandara Polonia Medan, 5 September 2005 lalu.

Hadir dalam acara itu Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Soekirman dan Wakil Bupati Sergai Dharma Wijaya, Buya KH Khairuddin MS, Ketua MUI Medan Prof M Hatta, sejumlah pimpinan SKPD Sumut, tokoh ulama dan tokoh masyarakat.


Proses ziarah diawali dengan pembacaan yasin dan tahtim dipimpin Buya KH Khairuddin MS kemudian doa. Selanjutnya Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi melakukan penaburan bunga diatas pusara Almarhum Tengku Rizal Nurdin.

Dalam kesempatan itu, Erry mengatakan, tragedi Mandala merupakan cacatan sejarah kelam, tidak hanya bagi keluarga para korban, tetapi juga bagi masyarakat Sumut.

“Peristiwa naas itu merenggut sejumlah tokoh terbaik Sumut. Dalam peringatan hari ini, saya mewakili Pemerintah Provinsi, mengucapkan belasungkawa kepada keluarga para korban sekaligus mengajak seluruh masyarakat Sumatera Utara untuk memanjatkan doa kepada arwah para korban. Semoga arwah para korban diterima Tuhan ditempat sebaik-baiknya di surga,” ujar Erry.

Sebagai adik kandung Almarhum H Tengku Rizal Nurdin, Erry mengaku keluarga masih merasa kehilangan. Demikian juga dengan keluarga para korban lainnya.

“Semoga peristiwa tersebut menjadi i’tibar bagi keluarga besar kami dan keluarga para korban Mandala lainnya,” sebut Erry.

Erry menegaskan, saat menjadi Gubernur Sumut, Almarhum Tengku Rizal Nurdin memiliki etos kepemimpinan dengan berupaya menerapkan konsep Pemerintahan Baik dan Pemerintahan Bersih (Good Government and Clean Governance). Konsep ini menjadi pedomanan nasional yang layak menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Sumut.

“Semangat itu akan terus kita gelorakan dalam membangun Sumatera Utara yang lebih baik di masa yang akan datang,” papar Erry.


Demikian juga dengan pola kepemimpinan Almarhum H Raja Inal Siregar yang menggagas Marsipature Hutanabe (Bersama-sama membangun daerah), layak menjadi tauladan bagi pemimpin Sumut.

Konsep Marsipature Hutanabe, sebut Erry, masih relevan hingga kini, mengingat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut sangan membutuhkan anggaran pembangunan ditengah keterbatasan anggaran yang ada.

Pemprov Sumut memiliki tanggungjawab besar dalam menjalankan roda pemerintahan dan mendorong laju pembangunan. Tentu membutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, terutama dari tokoh dan perwakilan Sumut yang berada di pusat, baik mereka yang menduduki kuris legislative dan eksekutif dan yudikatif.

“Khusus bagi saya pribadi, kepemimpinan kedua alarhum menjadi inspirasi tersendiri yang pantas diterapkan dalam mewujudkan cita-cita menjadikan Sumut yang panten. Saya juga mengajak tokoh Sumut yang ada di pusat untuk berjuangan membangun Sumut,” ucap Erry.

Ketua MUI Medan, Prof M Hatta dalam tausyiah singkatnya mehimbau pentingnya pengingat kematian, karena setiap makhluk hidup pasti mengalami kematian.

“Sebaik-baik makhluk adalah makhluk yang bermanfaat bagi makhluk lain. Untuk itu, mari kita gunakan saat hidup untuk melakukan kebajikan, terutama kepada sesama manusia,” pesan Hatta. (RHD)

Post a Comment

Top