0
LABURA | GLOBAL SUMUT -Diduga dampak dari proyek 17 anggota DPRD Labura terkait pengesahan RAPBD TA 2015 yang dinilai cacat hokum dan terkesan dipaksakan paripurna pengesahannya , walaupun tidak memenuhi Gourom, dimana anggota DPRD Labura yang terdiri dari 35 dewan, dan 17 anggota dewan tidak hadir tetapi RAPBD TA 2015 tetap disyahkan dan diparipurnakan.Akibat dampak dari protes 17 anggota DPRD itu, sehingga anggota dewan pilihan rakyat itu tidak menerima gaji untuk bulan januari.

Hal ini dikatakan sejumlah anggota DPRD labura saat berbincang-bincang dengan GLOBALSUMUT.COM dan wartawan lainnnya digedung rapat paripurna DPRD Labura.” Sampai saat ini kami anggota dewan belum menerima gaji untuk bulan januari pak”. Apakh karena , kami menolak hasil paripurna pengesahan RAPBD TA 2015 itu?. Karena menurut kami , tidak akan mungkin kami mampu membahas RAPBD TA 2015 yang begitu tebal selama dua hari.

Karena kami menduga pengesahan RAPBD TA 2015 ini , sudah di “Setting” pimpinan DPRD dan Pemkab untuk sisahkan. Sehingga kami anggota DPRD tidak dapat membahas apa maksud dan tujuan anggaran tersebut. Sebab , dua hari sebelum disahkan RAPBD baru dibagikan sama anggota dewan, manalah mungkin kami anggota dewan baru ini  mampu untuk membahas RAPBD TA 2015 itu yang begitu tebal lembarannya.

Salah seorang anggota DPRD juga mengatakan, seharusnya pimpinan DPRD itu jangan menambah masalah, sebab, kalau anggota DPRD ini tidak gajian, maka akan terbuka lebar masalah baru lagi. Kita lihat sajalah, Sekwan saja dijadikan tersangka akibat dugaan perjalanan dinas fiktif anggota DPRD yang telah habis masa bhaktinya, sudah pusing .” Kami dipilih rakyat dan bekerja  untuk rakyat ,kami merubah system yang lama, yang diduga tata tertib DPRD ini tidak berpihak pada masyarakat, makanya kami tidak menerima pengesahan paripurna RAPBD TA 2015 itu”, katanya.(Andika/Jhonson)   

Posting Komentar

Top